By redaksibacaapa

0

Terngiang Caronang

Saya pikir, menyerah adalah kata yang cukup tepat mewakili keinginan saya membedah cerita pendek karya Eka Kurniawan berjudul Caronang*. Maka, alih-alih untuk membedahnya, selain juga karena saya tidak sanggup, saya nikmati saja karyanya itu. Paling tidak saya nikmati cerpen itu dengan membacanya berulang-ulang. Dari pembacaan yang berulang-ulang itu beberapa hal menarik saya dapatkan.

Hal menarik yang pertama, saya seolah sedang membaca naskah cerita yang terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertamanya, dengan “kami” dan “aku” yang bercerita tentang Caronang. Bagian ini, bagi saya, dimulai dari paragraf pertama hingga enam. Bagian kedua-nya, dengan “kami” dan “aku” yang bercerita tentang “teman” dari “aku”, yakni Don Jarot. Bagian ini dimulai dari paragraf tujuh hingga paragraf 21 (dengan dua kutipan kalimat langsung yang saya hitung sebagai paragraf yang mandiri). Bagian ketiga, dengan “kami” dan “aku” yang bercerita tentang perbuatan “Aku”, “Caronang”, “Don Jarot”, “Baby”, “Istriku”, dan “Polisi”. Bagian ini dimulai dari paragraf 22 sampai dengan paragraf 28.

Hal menarik yang kedua, setelah membagi naskah cerita itu menjadi tiga bagian, saya dapati “kami” dan “aku” tidak selalu mengacu pada hal yang sama. Misal, dalam bagian pertama, kata “kami” mengacu pada “aku” dan “istriku”, dan mungkin juga termasuk “Baby”. Sedangkan dalam bagian yang kedua, “kami” selain mengacu pada “aku” dan “istriku” (yakni pada paragraf ke 11) tetapi juga pada “aku” dan “Don Jarot” (mulai paragraf 13 s/d 21). Di dalam bagian yang kedua inilah “Don Jarot” sebagai orang ketiga dikisahkan. Dalam bagian yang ketiga, “kami” (paragraf 24 dan 25) mengacu pada “aku” dan “Don Jarot”. Di bagian ketiga ini pula, “aku” pada paragraf 27 menjadi “Caronang” sebagai cerita fiksi.

Hal menarik yang ketiga, adalah tentang Caronang dalam naskah cerita tersebut. Caronang, karena dipandang sebagai mitos, kehadirannya selalu di“tiada”kan (paragraf 4, 11 dan 12, 26-28), atau paling baik diterima sebagai bagian dari masa lalu saja (misalnya dijelaskan dalam paragraf 2, 13) atau berada di wilayah yang “terdesak” (paragraf 15 dan 21), baik secara informal maupun formal.

Hal menarik yang keempat, cerita tersebut mengingatkan saya pada sosok wolverine, baik dalam kisah fiksi sebagai manusia yang berubah menjadi manusia setengah hewan (dengan tidak terbatas pada satu atau dua orang manusia saja, melainkan siapa pun sangat mungkin menjadi dan dipandang sebagai manusia setengah hewan), maupun sebagai binatang yang sungguh ada yang terancam kepunahan (latin: Gulo gulo). Selain itu juga mengingatkan saya pada adagium “Homo homini lupus est”, juga “survival of the fittest” nya teori evolusi, dan saya mengandaikan semangat adagium itulah yang ada dalam naskah cerita tersebut.  

Terakhir, hal menarik yang kelima, dengan pengandaian tersebut, kesimpulan “aku” yang ada dalam paragraf terakhir (par.28) untuk meniadakan Caronang, dan membenarkan peniadaannya oleh Don Jarot, menyiratkan ketakutan “aku” pada kemampuan Caronang meningkatkan kecerdasannya.

Akan tetapi, dapatkah ketakutan yang demikian dibenarkan?

Selain kelima hal yang menarik bagi saya itu, saya yakin masih banyak juga hal yang menarik dapat ditemukan dalam naskah cerita pendek tersebut, misalnya tentang penggambaran Caronang di paragraf-paragraf bagian pertama, juga tentang penggambaran pelarian Don Jarot dalam bagian kedua dan pertemuannya dengan Caronang.

210421

*) karena satu dan lain hal, saya belum dapat membacanya di dalam bentuk buku, dan masih membacanya secara online melalui website di tautan teks.

Credit: Foto oleh Klaus Nielsen dari Pexels