By redaksibacaapa

0

Percik Harap untuk Tatap Gelap

Kali ini saya membaca cerita pendek karya Leonid Andreyev berjudul Lazarus. Nama Lazarus, yang menjadi judul cerita pendek itu, adalah nama yang cukup terkenal. Beberapa hal seringkali dikaitkan dengan nama itu.

Salah satunya terkait dengan mujizat kebangkitan atau kembali hidupnya seseorang dari kematian. Leonid Andreyev pun, saya pikir, juga melekatkan hal itu dalam karakter utama yang dihadirkan dalam ceritanya yang juga bernama Lazarus itu.

Melalui cerita pendek yang terdiri atas enam bagian itu, Andreyev memaparkan peristiwa demi peristiwa yang terjadi setelah Lazarus “kembali” dari dunia “Sana”. Cerita pendek itu mungkin juga cukup mewakili pertanyaan-pertanyaan yang seringkali muncul perihal yang terjadi setelah orang dinyatakan meninggal, bahkan disemayamkan, selama setidaknya tiga hari tiga malam. 

Dalam rentang waktu itu, orang yang dinyatakan meninggal, “sungguh-sungguh” meninggal. Tidak mengherankan apabila keheranan, bahkan kegemparan, terjadi setelah orang yang telah dinyatakan sungguh-sungguh meninggal itu kembali “hidup”.

Itu “tidak sesuai” dengan “hukum dunia ini”. Dan tidak mengherankan pula apabila ketidaksesuaiannya itu tidak hanya mengundang rasa keingintahuan yang besar, tetapi juga seringkali dianggap sebagai tantangan untuk “hukum dunia ini”, sejauh yang telah dipahami.

Dengan nuansa horor dan misteri, Leonid Andreyev mengalirkan cerita karakter utamanya di arus yang berlawanan dengan “kesesuaian hukum dunia ini”. Menariknya, Andreyev sama sekali tidak memberikan gambaran tentang dunia “Sana”, dia hanya berbicara tentang dunia “hidup” –di sini, saat ini– berhadapan dengan Lazarus.

Jika Lazarus dapat diandaikan sebagai pengetahuan tentang dunia “Sana”, maka orang-orang yang bertemu dengannya, dalam cerita itu, saya andaikan sebagai orang-orang yang berusaha memperoleh pengetahuan itu. Beberapa orang memperolehnya, beberapa orang yang lain memilih menghindarinya tanpa mau tahu tentangnya.

Pengetahuan yang didapat oleh orang-orang itu terlepas dari benar tidaknya, karena Lazarus, dalam cerita itu, tidak pernah mengatakan apapun tentang dunia “Sana”, kecuali lewat kedua bola mata Lazarus. Tatapan mata Lazarus itu bisa jadi menyiratkan kekecewaan karena harus kembali di dunia “saat ini” yang tak seindah dunia “Sana” – yang mungkin menurutnya lebih indah; atau, bisa jadi, tatapan mata Lazarus itu menyiratkan ketakutan, karena dunia “saat ini” pada akhirnya harus menuju pada dunia “Sana”—yang gelap, dingin, dan menjadi tiada.

Pengetahuan atas dunia “Sana” itu, sayangnya, justru membawa “kematian” tak hanya pada kehidupan dunia Lazarus sendiri, tetapi juga pada kehidupan dunia orang-orang yang memperoleh pengetahuan itu melalui kedua matanya. Lazarus, saya pikir, bisa jadi sungguh-sungguh melihat dunia “Sana”, tetapi tatapan matanya tidak dapat disamakan dengan dunia “Sana” itu sendiri.

Di akhir cerita, saya pikir, Andreyev mengingatkan pekerjaan besar untuk menemukan jalan lain mencari kebenaran, agar tetap menjaga terang dan memberi rasa pada kehidupan, di hadapan mata “gelap” –yang bisa jadi bukan hanya milik— Lazarus, dalam ceritanya.

040221

Credit: Foto oleh Maria Orlova dari Pexels