By redaksibacaapa

0

Mari Ber-Cinta

Untuk membicarakan Cinta – hadeeh!– setiap  orang, saya yakin, punya cara dan pandangannya sendiri-sendiri. Saya termasuk orang yang malu-malu untuk membicarakannya, meskipun, yaa, sebenarnya, mau juga, hehe. Ketika membicarakan Cinta, bagi saya, sukar untuk secara tegas berkata ya atau pun tidak.

Kadang untuk berkata ya, saya tidak dapat langsung mengatakannya, entah karena apa. Demikian juga untuk berkata tidak, saya seringkali sukar mengatakannya. Itu tidak kemudian berarti bahwa di dalam Cinta tidak ada ketegasan.

Saya seringkali menyaksikan bentuk ketegasan, bahkan cenderung keras, yang mengatasnamakan Cinta. Demikian pula, itu tidak berarti bahwa di dalam Cinta, yang telah tampak keras dan tegas itu, tak ada kelemahlembutan di dalamnya, meskipun butuh perjuangan juga untuk melihatnya, wkwkwk.

Di luar itu semua, harus diakui bahwa pembicaraan tentang Cinta –yang hadir dalam banyak wajah itu –meskipun seringkali dihindari, adalah pembicaraan yang sangat menarik – setidaknya pada rentang usia tertentu. Cerita pendek berjudul The Nightingale and The Rose karya Oscar Wilde, seperti juga Cinta, juga telah mampu menarik perhatian luas para pembacanya.

Perhatian itu terkait dengan keindahan dan “misteri” yang ada dalam cerita itu. Secara panjang lebar, cerita itu telah dikupas oleh Rohini Chandrica Widyalancara dalam tulisannya berjudul “A Judicious Analysis of The Nightingale and The Rose for People of Fifteen”. Di samping tulisan Widyalancara itu, cukup banyak tulisan, juga komentar, yang mengulas cerita pendek itu.

Semua itu, saya pikir, sah-sah saja, toh, seperti juga Cinta, bukan hanya milik satu-dua golongan, tetapi semua orang, bahkan makhluk, setidaknya pernah merindukan Cinta. Eaa! Tapi, sebenarnya, dengan kalimat itu, saya hanya sedang mencari pembelaan saja atas yang hendak saya tuliskan tentang cerita pendek itu di sini. Begini …

***

Aku pikir, saat ini aku sedang menjadi Kadal dalam cerita itu. Aku berlari kencang, dengan ekor yang kuangkat tinggi-tinggi, melintas kebun menuju Daisy.

Dengan rasa heran Daisy bertanya padaku:

“Apa yang kau pikir sedang dipikirkan Si Pelajar itu, Lizard?”

“Sebab akibat, kupikir,” jawabku singkat. Kini aku tiba di sekitar kakinya. Aku melihat ke atas, memandangi kelopak dan daunnya yang sedikit bergoyang tertiup angin.

“Tapi kata Si Nightingale, ‘dia cinta sejati’. Apa katamu?” tanyanya lagi.

“Kupikir,” kataku, tetap dengan nada sinis, “Nightingale hanya bernyanyi tanpa pernah tahu apa pun tentangnya.”

“Cobalah untuk tidak begitu sinis, Lizard,” saran Daisy dengan nada yang tetap lembut.

“Terima kasih atas saranmu, Daisy,” kataku, “Tapi aku sedang berpikir realistis.”

“Ah, kau sendiri tidak tahu apa yang realistis, Lizard.”

“Aku pernah dengar dari Pohon Oak tua tempat Nightingale bersarang. Dia bercerita tentang anak perempuan di seberang lautan yang meminta Gunung Suci dalam semalam,” kataku menjelaskan, “hanya untuk menolak Cinta dari seorang yang tidak diharapkan.”

“Jadi,” kata Daisy, “menurutmu –”

“Ya,” kataku memotong, “Anak Perempuan itu sudah menolak Si Pelajar itu sejak awal, Daisy.”

“Bisa jadi seperti katamu, Lizard,” kata Daisy. “Tapi, bisa jadi itu bukti Cinta yang dibutuhkan Anak Perempuan itu, kan?” tambah Daisy.

“Jika demikian,” kataku dengan nada sinis, “penolakan Anak Perempuan pada mawar merah Si Pelajar itu bisa jadi bukan suatu penolakan atas Cinta Si Pelajar, Daisy.”

Daisy tampak menutupi rasa kagetnya atas jawabanku. “Tentu ada penjelasan untuk hal itu, Lizard,” katanya lembut.

“Tentu saja,” kataku. “Nightingale hanya melihat Cinta yang selalu romantis dan serius. Kupikir, seharusnya, di sana terselip canda dan tawa juga untuk Cinta – ”

“Maksudmu, Lizard?” selanya.

“Ya, kita tahu, orang lebih mudah mengumbar kata-kata benci dan penolakan, ketimbang kata-kata cinta dan penerimaan. Maksudku, mungkin, aku akan memilih kata benci dan menolakmu, bahkan ketika aku sangat mencintaimu, Daisy,” kataku, “karena, bagiku, kata-kata Cinta lebih memalukan diucapkan ketimbang kebencian.”

“Dan itu akan membuatku patah hati, Lizard,” kata Daisy.

“Dengan segera!” kataku, tetap dengan sinis. “Dan sesal berjejal menyusul setelahnya –”

“Seperti usia Remaja?” tanya Daisy memastikan.

Ekor kembali kuangkat tinggi-tinggi, dan aku bersiap berlari kembali.

“Tidak juga,” jawabku, “kadang Remaja lebih dewasa.”

250121

Credit: Foto oleh Eneida Nieves dari Pexels