By redaksibacaapa

0

Demikianlah… Cerita Kuprin

Dalam keseharian, saya pikir, banyak hal saya lakukan tanpa perlu pikir panjang kali lebar. Beberapa hal  itu biasanya terkait dengan hal-hal yang sifatnya spontanitas atau reflex saja, misalnya tertawa bila senang atau menangis kalau sedih.

Apa yang membuat saya senang atau sedih? Itu masalah yang lain lagi. Faktanya adalah saya tertawa bila senang dan menangis kalau sedih.

Meskipun, fakta itu, kemudian, tidak selalu dapat diartikan bahwa ketika saya tertawa saya senang, dan ketika saya menangis saya sedih. Tidak selalu demikian.

Beberapa orang, termasuk saya, dapat tertawa, tanpa ada kesenangan, bahkan penuh kesedihan di dalamnya. Sebaliknya, beberapa orang yang lain lagi, termasuk saya, pernah menangis dengan perasaan yang luar biasa gembira dan penuh sukacita.

Apakah itu mungkin? Mungkin! Tampak tak masuk akal? Memang! Paradox? Ya!

Paradox, mungkin kata itu yang paling mewakili, tidak hanya untuk perasaan saya dan ekspresinya, tetapi juga untuk cerita pendek karya Aleksandr Ivanovich Kuprin berjudul The Outrage – A True Story. Itu, adalah paradox.

Cerita pendek itu, sedari awal, sudah menjadi paradox, seandainya saya dengan sadar membacanya. Tetapi apakah mungkin saya dapat membaca cerita itu tanpa kesadaran? Sialnya, sangat mungkin! beberapa kali malah.

Baiklah, kita mulai dari ujung atas, judul karya itu, tidakkah itu paradox? Apa maksud Kuprin dengan mengatakan bahwa itu adalah kisah nyata padahal ceritanya adalah jelas fiksi, rekaan?

Tokoh dalam ceritanya adalah pencuri. Mana mungkin pencuri mempunyai hati nurani, ya, kan? Tetapi dalam cerita itu justru pencurilah yang memiliki hati nurani. Ini jelas fiksi, rekaan, tak mungkin pencuri punya hati nurani.

Pencuri kok dianggap profesi, padahal kan jelas setiap profesi punya kode etik, lantas, dalam ceritanya, pencuri punya kode etik. Ini jelas fiksi, rekaan, tak mungkin pencuri kok jadi profesi, yang punya kode etik, yang luhur itu. Tak mungkin.

Pencuri itu ya jelas penjahat, tapi Proudhon yang dikutip dalam cerita itu mengatakan “La propriete c’est le vol”, properti adalah perampokan. Bagaimana ceritanya? Tak mungkin seperti itu, jelas itu adalah fiksi, rekaan. Property, hak milik, sah, legal, tidak melanggar hukum, kok disebut perampokan? Hukum itu adil, kan, ya? Tak mungkin hukum itu tak adil, tak mungkin yang tidak adil itu jadi hukum. Demikian, kan, ya?

Kemudian, dalam ceritanya, bagaimana mungkin pengadilan kok tempatnya di foyer gedung teater? Memangnya pengadilan itu sandiwara? Jelas-jelas itu tidak mungkin, dan dengan demikian, makin jelas saja cerita Kuprin itu adalah fiksi, bukan kisah nyata seperti judulnya.

Setelah saya yakin bahwa cerita Kuprin adalah fiksi, tiba-tiba saya dapati gambar segitiga Penrose di layar laptop saya. Spontan saya berkata, lirih: “Itu tidak mungkin!”

Saya amati lagi gambar itu, sungguh-sungguh. Dan Fakta berkata pada saya: “Demikianlah … Itu… Mungkin.”

Duh!

180121

Credit: Foto oleh Karolina Grabowska dari Pexels