By redaksibacaapa

0

Hanyut-Tenggelam, Mengambang dan Berenang di Fiksi Alice

Adakah kepastian dalam hidup? Tidak, saya tidak sedang sungguh-sungguh berpikir tentang hidup dengan mengajukan pertanyaan itu. Saya hanya sedang berusaha memahami cerita pendek berjudul “A Carnival Jangle” karya Alice Dunbar-Nelson.

Saya mencoba mencari sesuatu hal yang dapat saya pastikan dalam ceritanya. Hingga beberapa kali membaca, semuanya tetap terasa mengambang, antara tragedi dan komedi, antara tua dan muda, antara hitam dan putih, antara tinggi dan rendah, antara ya dan tidak, antara kuat dan lemah, antara indah dan buruk, antara laki-laki dan perempuan, antara luas dan sempit, antara terbuka dan tertutup, antara keriaan dan kedukaan, antara kesucian dan kedosaan, antara ketepatan dan kesesatan, antara mitos dan fakta, dst.

Dalam usaha memastikan hal itu, saya membandingkan, mencari tahu, menentukan, membatalkan, menolak, dan menerima beberapa hal, walau akhirnya, mengambang juga. Beberapa hal itu misalnya carnival yang dimaksud dalam cerita itu. Beberapa kali saya meyakini bahwa carnival dalam cerita itu adalah Mardi Gras yang terkenal di New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat.

Dari keyakinan itu, saya menyusur, secara virtual, jalan-jalan yang disebut dalam cerita itu. Saya memulainya dari Canal Street, Bourbon Street, Toulouse dan St. Peter Street, menuju ke Rampart Street, kemudian beralih ke Washington Square, Royal Street, hingga Elysian Fields Avenue. Tetapi sungguhkah jalan itu yang dimaksud? Saya meragu. Saya pikir, Alice Dunbar-Nelson dapat dengan bebas mengambil jalannya dari mana pun, baik di Amerika Serikat ataupun Perancis.

Itu pertama. Selain itu, selanjutnya, “karakter” yang dihadirkan dalam ceritanya. Setting dalam ceritanya adalah carnival – dan tidak ada yang dapat dipastikan dalam sebuah carnival, baik karakter yang bertopeng ataupun tidak, baik yang sedang menjadi sosok yang lain ataupun dirinya sendiri, baik yang berdiri di barisan penonton atau yang berarak jadi tontonan di ruas-ruas jalan.

Siapa dan apa karakter dalam ceritanya? Saya kembali meragu, adakah sosoknya sebagai mitos atau fakta yang sungguh-sungguh ada? Ceritanya adalah fiksi, dan Alice Dunbar-Nelson tetap menjaga kebebasannya sebagai penulis, demikian pula kebebasan saya sebagai pembacanya. Tetapi sungguhkah demikian?

Tentang karakter itu, saya mungkin tersesat dengan menduga bahwa Alice sedang bercerita tentang sebuah lukisan karya Henri Emmanuel Philippoteaux. Banyak orang berkumpul di dalam lukisan itu, dan saya menduga bahwa karakter Leon –juga karakter-karakter lain – dalam cerita Alice ada di antara kumpulan orang di dalam lukisan itu.

Tentu itu tinggal dugaan saja, tak ada kemiripan – atau, tidak mungkin saya berani memastikannya—antara wajah dalam self portrait Léon Cogniet dengan orang yang terkapar dalam lukisan itu, baik yang di atas bebatuan dengan tangan yang tampak kuat, maupun yang di atas kasur dengan tangan yang tampak ramping, dalam lukisan berjudul “Lamartine, before the Hotel de Ville, Paris, rejects the Red Flag” itu. Maka, siapa Leon yang tiba-tiba disebut oleh salah satu karakter dalam cerita Alice itu?

Tetapi sungguhkah demikian penting keraguan-keraguan saya itu, dibanding dengan fakta bahwa saya tetap saja memilih membaca cerita Alice hingga akhir?

Akhir cerita pendek Alice Dunbar-Nelson itu seolah menjawab pertanyaan awal tulisan ini, dengan menyisakan dua hal yang selalu dapat dipastikan – dan yang dengan demikian memisahkan hidup dari arak-arakan yang jadi tontonan – tetapi tanpa perlu menghentikan keraguan, yang tak hanya membuat seseorang terhanyut, terseret dan tenggelam dalam arusnya, melainkan juga mengambang, menyelam dan berenang, bahkan melawan arus, menuju tepian. Tapi …, siapa yang dapat mengambang, menyelam dan berenang?

Dan, lagi pula, ini fiksi, kan?

070121

Credit: Foto oleh Jill Burrow dari Pexels