By redaksibacaapa

0

Jeli Pada Musim Semi

Pertama selesai baca cerita pendek dengan judul The Revolutionist karya Michaal P. Artzybashev, saya tak langsung dapat memahami maksudnya, kecuali beberapa kesan yang saya dapat setelahnya. Kesan itu, pada awalnya, adalah semacam kengerian, teror, bahkan horor.

Meskipun, bagi saya, cerita itu tampak seolah-olah menahan sedapat mungkin tidak secara vulgar menampilkan kengerian, teror, dan horor, tetapi malah kesan itu yang saya dapat. Walau demikian, saya pikir, “penghindaran” kevulgaran yang dilakukan dalam cerita itu, jauh lebih “lunak”, bahkan tak sebanding dengan, yang pernah sungguh-sungguh terjadi – dalam perang, misalnya.

Itu pertama kali selesai membaca. Setelah beberapa kali baca, saya pahami cerita itu secara berbeda.

Tanpa meninggalkan kesan awal yang saya dapatkan, saya pikir, cerita itu terkait dengan beberapa hal, yakni musim dan karakter di dalamnya. Tentu saja! Hadeeeh!

Maksud saya begini. Cerita itu terbagi menjadi empat bagian.

Sebelum membuat kesimpulan lebih jauh, empat bagian itu bukanlah mewakili empat musim, hehehe, tapi satu musim saja, yakni Spring, musim semi. Ya, musim semi. Peristiwa dalam empat bagian cerita itu berlangsung pada musim semi.

Musim yang “hidup” dan “hangat” setelah semuanya, sebelumnya, pada masa itu—entah sekarang—dingin, beku, sunyi, dan tertutup warna putih.  Musim yang mulai mencair, menggeliat, meliuk, bergerak, berkembang, dan terlihat beberapa warna, meski tidak semua warna, baik di langit ataupun di bumi.

Menyambung beberapa hal yang selalu terkait dengan cerita itu, selain musim dan karakter, adalah beberapa warna yang, menurut saya, cukup ditonjolkan dalam cerita itu. Maka, dalam cerita itu, yang mengaitkan antar bagian adalah perkembangan musim, karakter, dan warna. Hloh?

Ada tiga karakter utama yang selalu muncul dalam cerita itu, yakni Gabriel Andersen, Officer, dan Soldier; dan beberapa karakter pendukung, yakni men in black, peasant, subaltern dan tunggangan officer dan soldier, yakni kuda. Untuk karakter, hanya dua karakter yang bernama, yakni Gabriel Andersen, dan Ivanov.

Siapa Gabriel Andersen? Jawabannya jelas di dalam cerita itu. Siapa Ivanov? Salah satu soldier, hanya disebut sekali dalam satu bagian cerita, selanjutnya tidak. Apakah men in black, peasant, subaltern, officer dan soldier yang dihadirkan dalam cerita itu adalah karakter yang sama? Belum tentu, bahkan besar kemungkinan tidak.

Setiap karakter dalam cerita itu mengalami perkembangan dalam geraknya masing-masing, baik karakter utama, maupun pendukung. Perkembangan Gabriel Andersen diceritakan dengan jelas dalam cerita itu, terutama terkait dengan posisinya dalam suatu peristiwa, dari yang semula penonton kemudian mendekat, dan menjadi pelaku, bahkan ehem!

Beberapa karakter yang lain – men in black dan peasant—juga mengalami perkembangan, dari yang semula ehem! diam, menjadi bergerak, bahkan melawan, dan menguasai. Sampai di sini – ah, ya! saya terkecoh!

Cerita ini bukan tentang Gabriel Andersen ataupun musim semi! Tapi … Ah, saya yakin! cerita ini hanya butuh dibaca lebih jeli!

311220

Credit: Foto oleh Karolina Grabowska dari Pexels