By redaksibacaapa

0

Membaca Aroma Bunga Krisan

Saya pikir tidak seorang pun yang tidak mengharapkan, meski tidak diungkapkan setiap waktu, keluarganya bahagia. Keluarga, yang dapat dipahami sebagai suatu relasi maupun sebagai forma atau pun bentuk itu, acapkali dikaitkan, secara sempit, sebagai suatu hubungan yang dijalin dengan, dan terbatas pada, adanya pertalian darah saja – meski pada kenyataannya dapat dimaknai secara lebih luas, misalnya terkait dengan sifat-sifat yang melekat pada pertalian hubungan itu yang akrab dan lentur – dan yang ikatannya, dalam perkembangannya, terlembagakan melalui pernikahan.

Untuk mewujudkan harapan itu, dalam perjalanannya, tidak setiap orang dapat dengan “mudah” tiba di sana. Bahkan, bisa jadi, harapan itu tertinggal, ditinggal, terlupa, dan dilupakan jauh di belakang salah satu perhentian. Dan, bukan tidak mungkin, yang tertinggal, ditinggal, terlupa, dan dilupakan itu adalah harapan yang telah mempersatukan: cinta itu sendiri.

Membaca cerita pendek karya D.H. Lawrence berjudul Odour of Chrysanthemums, saya seolah diajak ikut serta dalam perjalanan dan perjuangan mewujudkan harapan itu, dan merasakan keras dan pahitnya perjalanan dan perjuangan itu, dalam sebuah keluarga di tengah masyarakat. Tidak semuanya mungkin berakhir bahagia, tetapi hidup harus terus dijalani dan diperjuangkan, dengan menahan sementara sekuat tenaga kata-kata “penghakiman”.

Cukup sukar untuk tidak sentimentil membaca cerita itu, tetapi, saya pikir, ada jauh lebih banyak hal yang didapat dan dibahas selain “sekedar” rasa sentimentil itu. Beberapa hal yang menarik itu, menurut saya, misalnya pembagian cerita menjadi dua bagian, yang seolah memisahkan pula waktu dan nuansa yang dihadirkan dalam kedua bagian itu, sebagaimana peralihan siang-sore-malam yang dilukis oleh kata “senja”.

Hal lain yang tak kalah menarik adalah setting tempat cerita itu. Tidak mudah untuk membayangkan, atau menghadirkan gambaran tempat dalam cerita itu dalam kepala saya, tetapi beberapa bagian yang khas, yang menjadi ciri dari setting tempat cerita itu, dituliskan dengan sangat jelas, setidaknya hal itu memudahkan dan membantu saya melakukan pencarian lebih lanjut tentangnya.

Setting tempat itu adalah lokasi pertambangan batu bara, dan perumahan-perumahan yang turut tumbuh di sekitarnya. Dengan setting tempat yang demikian, karakter-karakter yang dihadirkan dalam cerita itu adalah orang-orang yang terkait dengan pertambangan batu bara itu, baik dihadirkan sebagai keluarga ataupun bukan, dalam pengertian yang sempit ataupun luas.

Hal lain yang sama menariknya adalah cara D.H. Lawrence menuliskan yang tidak terbatas pada yang terlihat saja, melainkan juga yang terdengar, seolah-olah “menulis dengan telinga”, dan menyampaikan yang tidak terdengar dan terlihat—meskipun tampak berkebalikan dari yang terdengar dan terlihat, yakni pergulatan perasaan di dalamnya. Untuk menuliskan yang didengar, saya terkesan pada cara Lawrence menuliskan kata-kata dalam dialog-dialog karakternya yang tidak mengambil kata-kata tersebut secara utuh, dan seringkali tidak dalam bentuknya yang “baku” melainkan dalam bentuk sebagaimana “berlaku” ketika diucapkan dalam kehidupan harian di lokasi pertambangan dalam ceritanya.

Selain keempat hal itu, bagi saya, yang tak kalah menarik adalah cara Lawrence menampilkan dinamika kehidupan seseorang sebagai pribadi, dan sebagai anggota keluarga, dalam masyarakat petambang batu bara dalam ceritanya, dengan “hak” dan “tanggung jawab” yang melekat atasnya. Semua dinamika itu dirangkai menjadi cerita yang menyeruakkan aroma bunga krisan – yang dapat hadir di banyak tempat dan peristiwa, dalam suka dan duka kehidupan – yang menyatu, tidak hanya, dengan keringat kerja keras D.H. Lawrence.

271220

Credit: Foto oleh Elly Fairytale dari Pexels