By redaksibacaapa

0

Mengintip Lekuk Kota di Balik Balutan Gaun Pesta

Membuat gaun ternyata tak serumit yang saya bayangkan. Maksud saya, lebih rumit dari yang saya bayangkan.

Dalam benak saya, membuat sepotong gaun melibatkan kegiatan teknis untuk mengukur tubuh, menentukan desain, memilih bahan, membuat pola, memotong kain, menjahitnya beberapa waktu, kemudian… selesai, dan dikenakan. Kegiatan-kegiatan itu saja, dengan keterampilan dan keahlian tertentu, layaklah diberi predikat tidak-sederhana, seandainya enggan menyebutnya rumit.

Tapi, saya mendapat gambaran lain, yang melepaskan kegiatan yang tidak-sederhana itu, untuk membuat sepotong gaun, dan menjadikannya lebih rumit. Kerumitan “baru” yang saya dapatkan itu semakin menyamarkan, bahkan meniadakan, bayangan kerumitan teknis yang sebelumnya saya bayangkan.

Kerumitan baru itu terdapat dalam cerita pendek berjudul Dethroned karya I.N. Potapenko. Dalam cerita itu, Potapenko tak cukup “hanya” melibatkan kegiatan teknis pembuatannya saja, melainkan juga menambahkan, dan memadukan, lekak-lekuk “motif” dan “corak” sebuah kota pada sepotong gaun, yakni Kota Chmyrsk.

Kota, selain tersusun oleh struktur-struktur bangunan, disusun pula oleh manusia yang membangun, dan bahkan menjadi, “struktur” utama sebuah kota. Saya terkesan dengan pilihan Potapenko atas kedua hal itu –bangunan dan manusia– untuk menggambarkan lekuk motif dan corak sebuah kota.

Potapenko, dalam cerita itu, memilih karakter bangunan dan manusia yang tidak hanya eksklusif, tetapi juga menempati posisi yang tidak-rendah dalam struktur, yakni ballroom, dan istri dua pembesar.  Di ballroom itu, perebutan “tahta” di antara kedua karakter terjadi, yang medianya adalah gaun pesta, yang pembuatnya adalah Tailor.

Dengan pemahaman yang ala kadarnya tentang Clientalisme dan hubungan patron-klien, saya berusaha memahami cerita itu. Saya menempatkan kedua karakter dalam cerita itu, Tatyana Gregoryevna Zarubkin dan Natalie Semyonovna, sebagai patron; dan satu karakter, tailor, yakni Abram Srulevich Stiftik –Abram – sebagai broker, makelar, atau perantara.  

Pertama-tama, Potapenko menjelaskan kedudukan Kota Chmyrsk di antara kota-kota lain, misal Moscow, Kiev, dan Paris. Dalam hubungan patron-klien, ketiga kota itu adalah patron Kota Chmyrsk.

Potapenko, di cerita itu, menjelaskan kedudukan karakter utama perempuannya, Tatyana, dalam struktur masyarakat kota Chmyrsk, sebagai seorang perempuan yang termasuk dalam kelompok ladies, lebih khusus lagi ladies dalam S- Regiment, yang sama sekali, bahkan tidak ada hubungannya, dengan women di kota Chmrysk. Singkat kata, Tatyana adalah sosok perempuan kelas elit, yang menjadi patron perempuan-perempuan lain di kelas yang sama dengannya, lebih tepatnya menjadi patron di dalam ballroom.

Dalam cerita itu, desain sepotong gaun pesta adalah salah satu hal yang paling menentukan ladies dapat menjadi patron di ballroom. Kedudukan awal Tatyana sebagai patron ballroom terancam dengan hadirnya karakter sosok perempuan yang lebih muda, yang memiliki kecantikan, dan berada dalam kelas, yang “sama” dengannya, yakni Natalie Semyonovna.

Cerita itu, setelah mengambil kota Chmyrsk sebagai bahan dasarnya, menjalankan hubungan antar kota dan karakternya –Tatyana, Natalie, dan Abramka– seturut  pola hubungan clientelisme, yang dipadupadankan dengan corak dan motif dalam masyarakatnya. Potapenko, untuk selanjutnya, menjahitnya menjadi gaun pesta yang indah membalut cerita lekak-lekuk kota, dan menjauhkannya dari kata sederhana.

Sisanya? Kita cari asal keindahannya.

211220

Credit: Foto oleh Tamara Velazquez dari Pexels