By redaksibacaapa

0

Mengamati Kisah Kipling

Beberapa kesan saya dapatkan ketika dan setelah membaca cerita pendek berjudul Rikki-Tikki-Tavi karya Rudyard Kipling yang terinspirasi Panchatantra. Kesan-kesan itu mulai dari keingintahuan, kekhawatiran, kelucuan, hingga kebahagiaan.

Keingintahuan itu muncul tidak hanya ketika membaca judulnya yang unik, tetapi juga permulaan cerita yang seolah mengajak membacanya lebih lanjut, dan  mencari tahu lebih dalam tentang cerita itu. Dalam cerita itu beberapa karakter diceritakan dengan cukup detail, terutama terkait dengan kepentingan dan kecenderungannya.

Selain itu seolah-olah setiap karakter mempunyai “wilayah” kekuasaannya masing-masing dan berusaha mengamankannya dengan caranya masing-masing. Tarik ulur kepentingan untuk mempertahankan “kekuasaan”nya atas wilayah masing-masing itulah yang, menurut saya, menjalin kisah dalam cerita ini dengan memanfaatkan beberapa setting ruang dan waktu.

Setting ruang dan waktu ini tidak sekedar untuk meletakkan terjadinya suatu peristiwa saja, melainkan berfungsi juga untuk menunjukkan wilayah kekuasaan karakter-karakter yang ada dalam ceritanya. Setting ruang itu adalah “rumah” dan kebun.

Rumah ini tidak terbatas pada rumah manusia, tetapi juga susuh, sarang, dan liang persembunyian. Untuk wilayah rumah manusia dibagi lagi ke dalam beberapa ruang misalnya dapur, kamar mandi, kamar tidur, ruang makan, dan beranda; sedangkan untuk wilayah kebun dibagi menjadi semak-semak, tumpukan sampah, berbatu dan berdebu, selain juga ruang atas dan ruang bawah. Untuk setting waktunya, digunakan dua wilayah “kekuasaan” waktu, yakni waktu terang (pagi-sore hari) dan gelap (malam-dini hari).

Sebagaimana dalam cerita pada umumnya, di sana terdapat karakter yang dipandang “baik” dan “jahat”. Baik dan jahat ini bukan sebagaimana dipandang dalam kerangka moral, melainkan dalam kerangka kepentingan tadi, yakni dalam kerangka keamanan wilayah kekuasaannya masing-masing.

Maka, dengan demikian, yang “baik” adalah yang mengamankan wilayah, dan yang “jahat” adalah yang mengancam wilayah kekuasaan itu, dan juga bisa jadi berbeda antara satu karakter dengan karakter yang lain.  Karakter baik dan jahat itu diwakili oleh dua binatang, yakni Rikki-Tikki dan Nag-Nagaina. Kedua karakter itu menguasai kedua wilayah ruang dan waktu (kebun-rumah, atas-bawah; terang-gelap).

Kedua binatang itu, sebenarnya sama-sama “ancaman” bagi karakter-karakter lain dalam cerita itu, mulai dari burung, binatang pengerat, ular jenis lain, hingga manusia itu sendiri. Namun demikian, salah satu karakter mungkin dipandang memberikan ancaman yang lebih besar kepada lebih banyak karakter dibanding karakter yang lain, dan satu karakter yang lain dipandang memberi ancaman yang lebih kecil kepada, dan dibandingkan dengan, karakter yang lain.

Saya pikir, banyak hal dapat digali lebih dalam dari cerita itu. Misalnya terkait alam yang mempunyai keseimbangannya sendiri, juga keterikatan makhluk terhadap bentuk, termasuk kepentingan dan kecenderungannya yang melekat. Demikian pula peran Manusia di dalamnya, yang tidak hanya mampu mengatasi kecenderungan dan kepentingannya, melainkan juga yang menempatkan alam semesta sebagai rumah dan kebunnya.

081220

Credit: Foto oleh ROMAN ODINTSOV dari Pexels