By redaksibacaapa

0

Menyelidik Fantasi Korlenko

Sampai dengan saat ini, mungkin Plato-lah yang dianggap paling lengkap menuliskan ajaran-ajaran dan kisah Sokrates, gurunya, dibandingkan dengan murid-muridnya yang lain. Meskipun demikian, kisah Sokrates yang ditulis Plato berhenti di sekitar kematian Sokrates.

Lalu apa jadinya kalau kisah Sokrates setelah pelaksanaan hukuman mati itu dituliskan?

Cerita pendek berjudul The Shades, A Phantasy karya Vladimir G. Korlenko agaknya dapat dianggap menuliskan fantasi itu. Dalam lima bagian cerita, Korlenko seolah hendak melanjutkan cerita Plato tentang Sokrates di sekitar dan setelah kematiannya.

Pada bagian pertama, Korlenko mencoba menceritakan suasana dan nuansa yang meliputi kota Athena, dan juga pikiran dan perasaan penduduknya, setelah Sokrates dijatuhi hukuman mati. Pada bagian ini, Korlenko berusaha menunjukkan bentuk hubungan antara Sokrates dan penduduk Athena, yakni antara “gadfly to the horse”: Sokrates si pengganggu, yang tidak membiarkan penduduk Athena dapat tidur nyenyak.

Di samping itu, masih dalam bagian yang pertama, Korlenko seolah berusaha menunjukkan bahwa karakter-karakter dan setting yang ada dalam ceritanya adalah sama dengan yang ada dalam tulisan-tulisan Plato, misalnya dengan menyebut nama orang tua Sokrates, juga kota dan waktu peristiwa tersebut terjadi. Maka, lagi-lagi, seolah-olah, pembaca dianggap sudah membaca tulisan Plato, setidaknya Apologia (Apology) – tulisan ini sudah disadur ke dalam bahasa Indonesia oleh Fuad Hassan, dan diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang awal tahun 70an – yang menceritakan tentang pembelaan diri Sokrates di hadapan sidang penduduk Athena.

Pada bagian dua, Korlenko mencoba menceritakan yang dilakukan oleh murid-murid Sokrates setelah hukuman itu dilakukan. Satu karakter yang akan menjadi tokoh utama dalam bagian ini bukanlah Plato, melainkan salah seorang murid Sokrates yang lain, Ctesippus.

Setelah selesai mengaitkan cerita itu dengan tulisan Plato, barulah kisah Sokrates dimulai. Beberapa hal yang melekat dalam diri Sokrates ditampilkan dalam cerita itu. Sokrates yang ingin tahu, persisten, dialogis, konsisten, pemberani, dan tak ketinggalan: Sokrates yang “menyebalkan” pun turut dihadirkan di sana.

Dalam kisah itu, Sokrates juga ditampilkan sebagai sosok yang selalu dicurigai ketika berdialog. Sikap itu tidak tanpa sebab.

Harus diakui bahwa ketika Sokrates berdialog dengan seseorang, dialog itu akan seringkali, kalau tidak selalu, diakhiri dengan “kekalahan” atau bahkan rasa malu rekan dialog Sokrates. Itu bukan karena Sokrates berniat demikian, tetapi justru seringkali dikarenakan rekan dialog Sokrates menyatakan diri memiliki pengetahuan, atau mewakili seseorang yang memiliki pengetahuan tersebut, yang sayangnya, di akhir dialog, kesimpulan yang didapat justru bertolak belakang, atau setidaknya malah meniadakan, pernyataan awal rekan dialog Sokrates. Ditambah lagi, dialog itu biasanya terjadi tidak dalam suasana sepi, melainkan di pasar atau di jalan-jalan, dan disaksikan oleh banyak orang.

Oh, iya, satu lagi sifat Sokrates yang diikuti oleh semua hal yang melekat dalam diri Sokrates, yakni sifat kritisnya yang tanpa lelah mencari kebenaran, yang tidak hanya berlaku untuk orang lain, melainkan juga untuk dirinya sendiri. Bahkan, lebih lanjut dalam cerita itu, sifat itu tidak berhenti ketika dirinya mati, melainkan juga berlanjut dalam pikiran dan jiwa murid-muridnya, yang kemudian menjadikannya abadi.

Tetapi sungguhkah demikian? Mari, selidik fantasi ini dengan teliti!

051220

Credit: Foto oleh Anete Lusina dari Pexels