By redaksibacaapa

0

Merupa Ulang Rupa Waktu ala Nathaniel

Beberapa orang menganggap Waktu adalah teramat penting, dan seringkali menempatkannya di tempat yang dapat selalu mengingatkan dirinya terhadapnya. Beberapa orang yang lain, meskipun menganggap Waktu sebagai yang terpenting, justru menempatkannya di tempat tersembunyi, yang hanya dirinya sendiri yang mengetahui, karena Waktu telah dihayatinya, menyatu dengan dirinya.

Beberapa orang yang lain lagi, menganggap Waktu tidaklah penting, tetapi menempatkannya di tempat yang selalu dapat dilihatnya, sebagai hiasan. Dan sebagian orang yang lain lagi, Waktu sama sekali tidak ada, dan memang tak perlu diada-adakan.

Banyak ragam pemahaman dan pemikiran tentang Waktu. Semuanya tidak pernah sederhana, meskipun berangkat dari hal yang sederhana. Mulai dari yang memahami dan berpikir bahwa Waktu itu linear, singular, dan universal, atau sebaliknya, spiral, plural, dan partikular; dari yang dipandang obyektif, atau subyektif; dan dari yang meruang sebagai yang dapat dipotong-potong, atau sebaliknya, yang melampaui ruang, sebagai yang absolut, yang tidak ada ujung dan pangkalnya.

Dari berbagai ragam pemahaman dan pemikiran itu, yang cukup menarik bagi saya adalah bentuk dan cara hal itu disampaikan. Ada yang disampaikan dalam bentuk rumus matematis, dari yang sangat “sederhana” hingga yang paling kompleks; ada yang dalam bentuk dogmatis hingga yang filsafati; dan juga yang disampaikan dalam metodologi dan sistematika yang sangat ketat hingga dalam bentuknya yang lentur dan metaforis, melalui mitos dan karya sastra, di mana cerita pendek berjudul The Haunted Mind karya Nathaniel Hawthorne termasuk di dalamnya.

Cerita pendek itu, saya kira, berusaha menghadirkan kembali wujud-wujud Waktu yang sebelumnya pernah dikenal di dalam mitos, utamanya dalam mitos Yunani Kuno. Dalam mitologi Yunani Kuno, Sang Waktu dikenal dengan nama Khronos, yang dalam cerita tersebut, menurut saya, dapat disandingkan dengan istilah “Father Time”.

Nathaniel, dalam cerita itu, berusaha untuk tidak menyebut nama-nama turunan Khronos, melainkan hanya menyebut istilah-istilah yang terkait dengan, dan dapat dianggap sebagai simbol, Khronos dan ketujuh anak turunnya – Hestia, Demeter, Hera, Hades, Poseidon, Zeus, dan Chiron, yang seolah menghadirkan kembali ragam wajah Waktu di hadapan manusia, sejauh dan selama yang disadari olehnya. Istilah-istilah tersebut tersebar di hampir setiap paragrafnya, sampai pada titik yang, bagi saya, mengesankan bahwa seolah-olah istilah-istilah tersebut justru telah lebih dulu ada di sana, baru kemudian dijalinkan dan dihubungkan satu sama lain menjadi kalimat yang menyusun paragraf menjadi cerita pendek itu.

Cerita itu dimulai dengan beberapa pemahaman atas Waktu, yakni sebagai sesuatu yang sangat subyektif, yang singular, yang partikular, dan yang dapat dipotong-potong – di-juxtapose-kan. Untuk pemahaman yang terakhir itu, saya meminjam istilah Henri Bergson, seorang pemikir Perancis, yang memasukkannya ke dalam pemahaman le temps, yang dibedakan dari la durée.

Dari “mula” cerita itu, kemudian diceburkan, diterjunkan, dibenamkan, dengan perasaan terpaksa ataupun sukacita, dengan keheranan dan keterkejutan atau pun ke“biasa”an dan ketakjuban, ke dalam Waktu yang obyektif, yang plural, yang universal, dan yang absolut, yang darinya dipaksa untuk lebih merasakan la durée.

Lantas di mana kehidupan itu berada?

Ini adalah salah satu yang, menurut saya, paling menarik dalam cerita itu, yakni cara Nathaniel menghadirkan Sisyphus di sana – yang abadi dalam geraknya, yang berenang, dan menyelam dalam la durée di sela degub, detak, dan denting le temps – sebagai perwujudan dari l’élan vital itu sendiri, dari awal cerita, hingga begitu saya selesai membaca.

011220

Credit: Foto oleh Maria Orlova dari Pexels