By redaksibacaapa

0

Memper-hati-kan* Catatan M.R. James

Entah karena apa, sejak membaca kalimat awal cerita pendek berjudul Lost Hearts karya Montague Rhodes James (M.R. James), saya begitu saja mempersiapkan kertas dan pena. Satu dua hal saya pikir, ketika itu, butuh saya tuliskan di atas kertas. Begitu selesai membaca, memang kemudian, saya dapatkan beberapa hal tercatatkan dalam kertas yang saya persiapkan itu.

Pertama, catatan tentang waktu. Ketika membaca cerita pendek tersebut, saya begitu saja mencatatkan angka yang menunjuk waktu, yang dapat berupa tahun, bulan, tanggal, jam, pergantian sore dan malam hari, pagi dini hari, pergantian musim, umur, maupun selisih umur, dan durasi. Sebagian besar yang saya catat, dan ini memang menunjukkan sebagian besar waktu terjadinya peristiwa dalam cerita itu, adalah sore hari dan malam hari.

Kedua, catatan tentang lokasi. Beberapa hal tentang lokasi atau setting tempat dalam cerita itu langsung saya googling saja begitu saya butuh untuk tahu tentang hal itu. Tetapi tidak hanya terbatas pada hal itu, melainkan juga tentang hal-hal detail yang terkait dengan bangunan sebagaimana disebutkan dalam cerita tersebut.

Ketiga, catatan tentang karakter yang terdapat dalam cerita itu. Setidaknya terdapat dua hal yang dilekatkan pada karakter yang ada dalam cerita tersebut, yakni kedudukan sosialnya, dan sifatnya – mulai dari professor, pengurus rumah, kepala pelayan, sepupu, yatim piatu, orang asing, dan coroner; dengan sifat tekun, ingin tahu, “tahu” segala, pendiam, teliti, dst.

Di akhir cerita saya mendapatkan bahwa hitungan yang saya lakukan tidak sesuai dengan yang ada dalam cerita – masing-masing selisih satu angka. Ketidaksesuaian itu terkait dengan tahun kedatangan ke Aswarby Hall, dan juga nama, kedua anak yang disebutkan dalam cerita Mrs. Bunch dengan yang tertera dalam catatan Mr. Abney, yakni Phoebe Stanley dan Giovanni Paoli, yakni berturut-turut tahun 1792, Maret tanggal 24, dan tahun 1805, Maret tanggal 23.

Namun, saya pikir, cerita pendek ini tidak hanya berhenti di situ. Maksud saya, tidak hanya berhenti pada banyaknya tebaran pengetahuan penulisnya, dan juga pada hitung-hitungannya saja, melainkan, ini adalah andaian saya, yakni bahwa cerita itu membawa pesan yang lain, yang disampaikan dalam bentuknya yang “ekstrem”, sebagai cerita fiksi – saya tidak berani membayangkan seandainya itu sungguh-sungguh terjadi.

Pesan itu adalah gambaran tegangan moral dan pengetahuan, atau lebih khusus lagi antara etika dan ilmu (sains) dalam kedudukannya sebagai metode memperoleh pengetahuan, yang dalam cerita itu meletakkan manusia – yang memiliki nama, hati, kesadaran, dan kehendak bebas – tidak sebagai subyeknya, melainkan sebagai alat dan obyek percobaannya.

Hal itu kemudian memunculkan satu dua hal di benak saya: pertama, adakah di sana suatu masa di mana ilmu, mitos, dan kemanusiaan hubungannnya pernah sedemikian renggang, dan sebaliknya pernah pula ada suatu masa di sana ketika ilmu, mitos, dan kemanusian hubungannya mesra, pada masa-masa yang telah lalu?

Kedua, apakah kemungkinan jawaban atas hal itu terletak pada ketelitian pemaknaan atas serakan puing-puing Aswarby Hall di jantung kota Lincolnshire, dan juga bangunan-bangunan di penjuru dunia yang lain – yang juga diluluhlantakkan oleh brutalnya perang; dan juga pengenalan terhadap batas-batas kemanusiaan yang melaju dengan kecepatan yang lebih lambat bila dibandingkan dengan pemenuhan rasa keingintahuan itu sendiri yang terus melesat dan berkembang dengan sangat cepat?

Sampai di sini, saya pikir, catatan M.R. James masih tetap membutuhkan per-hati-an yang jauh lebih luas dan lebih besar.

241120

*) saya meminjam istilah ini dari salah satu tulisan Mangunwijaya, yang sayangnya saya tidak begitu ingat judul tulisan beliau.

Credit: Foto oleh Daniela Constantini dari Pexels