By redaksibacaapa

0

Berkhayal Pesta Pakai Kacamata

Dalam suatu perjumpaan, disadari atau tidak, saya acapkali menggunakan ukuran tertentu untuk menakar yang ada di hadapan saya. Ukuran yang saya gunakan itu mulai dari hal yang paling sederhana hingga pada hal-hal yang paling rumit – dari hal yang dapat saya inderai, yang tidak tampak, dan, bahkan, yang tidak ada wujudnya.

Ketika membaca cerita pendek berjudul The Christmas Tree and The Wedding karya Fiodor M. Dostoyevsky, saya seolah diajak untuk menyaksikan bagaimana ukuran-ukuran itu digunakan dan diterapkan. Caranya? Saya diajak olehnya ke pesta. Saya pun tersenyum senang.

Tadinya saya sempat menolaknya, tetapi akhirnya saya terima ajakannya. Tentu saja, saya merasa sungkan karena tidak mengenal tuan rumah yang mengundangnya ke pesta, tetapi menurutnya, itu tak bakal jadi masalah.

Dalam perjalanan menuju ke pesta itu, Dostoyevsky memberikan saya mantel dan kacamata untuk saya kenakan nanti setiba di sana. Lagi-lagi saya menolaknya, walau akhirnya saya terima juga.

Katanya, itu adalah mantel dan kacamata buatannya. Mantel itu dapat membuat saya tak kasat mata, dan kacamata itu adalah versi teranyar yang dilengkapi alat bantu dengar yang versinya tak kalah mutakhir.

Tapi sejak kapan Dostoyevsky menjadi penemu alat-alat macam begini, tanya saya dalam hati. Lagian, untuk apa alat bantu dengar kalau saya dapat dengan segera mendekat ke sumber suara dengan mantel itu tanpa terlihat, pikir saya memberontak.

Ah, tapi sudahlah! Saya sedang ingin berpesta!

Tak berapa lama perjalanan, rumah tempat pesta diadakan sudah tampak di depan. Saya segera mengenakan mantel dan kacamata buatannya yang katanya versi termutakhir itu.

Tak ada perubahan berarti yang saya rasakan. Semua masih sama, juga rasa nyaman tanpa sungkan itu. Setiba di sana, Dostoyevsky sudah masuk terlebih dahulu meninggalkan saya. Saya pun bersiap menyusul masuk ke pesta itu.

Sayangnya, saya tidak dapat menuliskan bentuk luar bangunan tempat saya berpesta di sini, karena tak saya dapati dalam tulisan itu. Tetapi agaknya bentuk luar bangunan itu memang tidak sedemikian penting dan mendesak untuk dituliskan. Toh, pestanya juga di dalam ruangan. Jadi, saya pikir, lebih baik, saya langsung masuk saja ke dalam rumah itu, dan berpesta.

Wuih! Saya langsung bingung. Di mana pestanya?

Saya cari Dostoyevsky yang sudah terlebih dahulu masuk ke rumah itu. Saya telusuri ruangan-ruangan rumah itu. Di ballroom, drawing room, dan juga dining room. Tetapi saya belum menemukannya.

Daripada semakin bingung, saya duduk saja di kursi besar yang empuk di salah satu ruangan. Melihat orang-orang di sekitar saya, sembari berusaha mencari Dostoyevsky.

Ketika duduk itulah saya sadari kecanggihan kacamata dan mantel Dostoyevsky yang saya kenakan, yang telah dipinjamkan kepada saya. Ternyata kacamata itu mampu melihat jaring-jaring yang menghubungkan orang yang satu dengan yang lain dalam ruangan itu.

Saya melihat setiap orang memiliki jaringnya sendiri. Ada yang jaringnya tebal, tipis, kuat, ringkih, pendek, panjang, lentur, ataupun kaku.

Lebih dari itu, kacamata Dostoyevsky juga seolah mampu menghitung banyaknya jaring-jaring yang dimiliki orang per orang di dalam ruangan itu, dan melihat bentuk jaring-jaring hubungan yang satu dengan yang lain. Saya juga dapat mendengar dengan lebih jelas yang sedang dibicarakan oleh orang-orang di sana.

Saya lepas dan pasang kacamata itu beberapa kali untuk memastikan. Ketika saya lepaskan untuk kesekian kali, Dostoyevsky sudah duduk di sebelah saya.

Hebat betul kacamata buatannya, pekik saya, dalam hati. Kagum atas alat buatannya itu, dalam hati, saya penasaran kisaran harganya.

Dostoyevsky tersenyum seolah tahu yang sedang saya pikirkan.

“Sepertinya kita sedang berpesta,” katanya.

Benar kata Dostoyevsky. Saya sedang di tengah pesta!

Saya kembalikan kacamata dan mantel yang dipinjamkannya, dan menikmati pesta dengan alunan musik yang mengiringinya. Meski … tak begitu kuat terdengar di telinga saya.  

201120

Credit: Foto oleh Ekaterina Bolovtsova dari Pexels