By redaksibacaapa

0

Mencabut Duri di Kaktus Henry

Saya seringkali terlampau yakin telah mengenal dengan sungguh-sungguh semua yang berada di dekat, dan juga yang telah akrab, dengan saya. Tetapi, sayangnya, keyakinan dan kesungguhan saya itu kemudian tinggal hanya kepercayaan diri, dan juga kesombongan, yang tidak sepenuhnya dapat menjadi sandaran.

Itu terjadi, misalnya saja, dalam kejadian sederhana, ketika jari-jari kaki saya masih saja tersandung kaki-kaki meja dan kursi ketika berjalan – dan ini, kata seorang teman saya, rasanya, “gurih” (yang benar saja!), bahkan ketika  saya berjalan di dalam rumah sendiri, yang telah saya kenal dan akrab bagi saya. Dari kejadian itu, mungkin saya perlu mempertimbangkan ulang keyakinan dan kesungguhan saya itu, agar tidak tinggal menjadi anggapan tanpa bukti, atau andaipun terbukti, justru bukti yang menjadikannya mitos.

Akan tetapi, apa itu mitos? Baiklah kita periksa perlahan-lahan, dan melihat seberapa pentingnya perkara mitos – atau bukan mitos – untuk dipermasalahkan, karena tidak menutup kemungkinan bahwa istilah mitos itu sendiri telah menjadi mitos, dan bahwa, mungkin, tulisan ini pun adalah sebuah mitos.

Saya menggunakan istilah mitos dengan merujuk pada pengertian yang dilontarkan oleh Roland Barthes, seorang pemikir Perancis, dalam tulisannya berjudul “Myth Today” dari bukunya berjudul Mythologies, yang di awal tulisannya, dengan sederhana menyebut mitos sebagai “type of speech”, yang kemudian dilanjutkan dengan “catatan kaki” yang tidak-sederhana tentangnya, termasuk perbedaannya dengan type of speech yang lain.  

Dan, sebagai ilustrasi tentang hal itu, saya menempatkan juga cerita pendek yang sama “sederhana”nya, dan yang untuk membacanya, menurut saya, harus dilengkapi dengan catatan kaki yang sama tidak-sederhananya, yakni cerita pendek berjudul “The Cactus”, karya O. Henry. Secara sederhana saya memahami cerita pendek itu sebagai “kegagalan memahami pesan”.

Hloh?

Tentu pernyataan itu harus diikuti dengan catatan kaki yang harus mampu menjelaskan hal itu. Beberapa pertanyaan tentangnya tentu juga dapat segera diajukan, yang jawabannya ada dalam cerita tersebut, misalnya tentang siapa, apa, kapan, di mana, bagaimana, dan mengapa pesan itu sampai gagal dipahami.

Tetapi, karena saya pikir jawabannya dapat ditemukan di dalam teks itu, saya lebih tertarik dengan cara Henry menyampaikan pesan melalui cerita itu.

Pertama, Henry melakukan proses pembentukan signification (tahap III dalam proses mitos) sebagaimana dalam pemahaman mitos-nya Barthes, yang menjadikan sign (tahap III dalam proses bahasa, dalam hal ini kata-kata yang digunakan dalam cerita tersebut) menjadi signifier atau form (sebagai tahap I dalam mitos). Hal itulah yang kemudian menjadikan cerita Henry tidak lagi sederhana sebagaimana yang saya bayangkan sebelumnya.

Di sana terdapat signification, yang memuat konsep dan sign – di mana sign dibentuk dari signifier dan signified. Beberapa sign dan sekaligus signifier itu, yang keduanya digunakan secara bersama-sama dalam cerita itu, diantaranya: “drowning man”, “removing one’s gloves”, “tentacular leaves that perpetualy swayed with the slightest breeze with peculiar beckoning motion”, dst.

Saya mungkin dapat memahaminya dengan menerjemahkan begitu saja kata per kata (sebagai signifier, dan bukan form), tetapi bagaimana atau apa konsep yang terkandung bersama dengan kata-kata itu (sebagai form) yang membentuk signification, atau secara keseluruhan: menjadikan kata-kata itu sendiri sebagai mitos. Sebelum sampai sejauh itu, pertanyaan yang harus saya jawab adalah: bagaimana saya dapat membedakan bahwa sign tidak sedang dalam fungsinya sebagai sign, melainkan sebagai form, yang bersama dengan konsep, menghasilkan signification dalam cerita itu?

Sejauh proses yang saya sadari ketika membaca karya itu, saya selalu harus mengaitkan kata-kata tersebut (sebagai sign dan form) kepada konteks yang sedang berjalan di dalam teks tersebut, melalui pemahaman terhadap penggunaan kata-kata, yang terletak sebelum atau setelah kata-kata yang bersangkutan, misalnya penggunaan kata “garments”, “armor”, “pedestal”, “homage”, “incense”, dst – yang dalam hal ini mengacu pada hal itu sendiri (kata-kata sebagai sign), dan juga sekaligus merujuk pada konsep tertentu yang tidak terkait secara langsung dengan kata-kata (form) itu.  Kata-kata (form) dan konsep yang terangkai dalam cerita itu sampai kepada pemahaman saya dalam bentuknya sebagai mitos – mitos sebagai type of speech. Yang tentunya memiliki perbedaan di sana sini dengan type of speech selain mitos.

Tetapi tidak dipungkiri bahwa sampai dengan saat ini mitos telah selalu dibebani dengan nama yang tidak sama baiknya dengan type of speech yang lain, yang mungkin karena selalu dikaitkan dengan kekaburan pengertian yang dibawanya, atau ketidaksesuaiannya dengan fakta-fakta yang ditemukan setelahnya. Namun, meskipun demikian, dengan menempatkan dan memahami mitos sebagai type of speech, pembaca, dan mungkin juga pendengar, ditantang dan juga diandaikan untuk selalu  memiliki dan menjaga sikap rendah hati dan nalar kritisnya ketika berhadapan dengannya, yakni bahwa mitos tidak selesai pada pemahaman terhadap bentuknya saja, melainkan juga pada konsep yang dibawa serta bersamanya, yang sangat mungkin, berbeda dengan penampakannya.

Maka, demi menjaga sikap dan nalar kritis itu, agaknya saya perlu mempertimbangkan untuk mengganti judul artikel ini. Setelah saya pikir-pikir, dan saya cari-cari ala kadarnya, ternyata saya terlampau percaya dan yakin bahwa semua kaktus memiliki duri, termasuk kaktus yang ada dalam cerita O. Henry itu, sama halnya dengan keyakinan saya terhadap artikel ini yang mungkin menambah mitos baru atasnya. Uh!  

161120

Credit: Foto oleh Lisa Fotios dari Pexels