By redaksibacaapa

0

Labirin Teka-Teki Gorky

Membaca cerita pendek berjudul One Autumn Night karya Maxim Gorky seperti diajak memasuki suatu labirin. Labirin ini, yang meski kadang dilengkapi dengan pencahayaan yang cukup terang, tetapi tetap memberi batasan pada jangkauan penglihatan – baik ke depan, ke samping, ataupun ke belakang.

Walaupun demikian, Gorky mencoba mengajak saya perlahan-lahan memasuki lorong demi lorong. Dari lorong yang paling luas dan ramai maupun yang paling sempit dan sepi, dari lorong yang paling terang ataupun yang paling gelap, hingga lorong yang paling mudah diinderai maupun yang hanya ada di ranah refleksi – dengan penglihatan yang jangkauannya terbatas, tentunya.

Di awal cerita, saya seolah dihadirkan di salah satu titik dalam labirin itu; dengan tiba-tiba! Di mana, dan dari mana, saya sama sekali tidak tahu.

Sebagaimana di dalam labirin, agaknya sukar untuk menentukan titik awal dan akhirnya, kecuali ada tanda di sana yang dapat kita kenali, untuk kita sepakati sebagai awal mula. Maka, tanda mula itu, untuk sementara, adalah sebuah tanah lapang di dermaga, di tepi sungai besar.

Di titik mula ini, yang oleh Gorky diberi pencahayaan yang cukup terang, dapat kita lihat musim –tidak hanya dalam kaitannya dengan iklim dan cuaca, yakni musim gugur, melainkan juga dalam kaitannya dengan kegiatan sosial dan budaya yang mengikuti musim itu, dalam hal ini selesainya navigation season – hingga kondisi, suasana, dan nuansa yang dirasakan oleh pedalaman narator terhadap musim itu.

Tetapi, pencahayaan ini tidak hanya cukup sampai di situ, Gorky juga menyorot kondisi fisik narator ketika itu, yakni kelaparan yang hebat yang tidak mudah dikenyangkan, yang ditambah dengan rasa dingin yang menyergap; yang berkebalikan dengan kondisi pedalaman narator yang ketika itu, menurutnya, lebih mudah dikenyangkan, dan dijaga kehangatannya.

Lorong-lorong labirin ini, dengan kombinasi teknik pencahayaan – yang terang, redup, gelap, menyorot pada satu titik, ataupun melebar merata – tidak hanya memberikan kesan dramatis, melainkan juga secara tidak langsung mengajak pembaca mengenali, dan mengingat, terhubung tidaknya lorong yang satu dengan lorong yang lain, atau pernah dan tidaknya lorong tersebut dilalui oleh pembaca.

Namun, tidak hanya itu, dengan model labirin dan teknik pencahayaan ini, narator juga seolah mengajak saya memecahkan “teka-teki” melalui cerita itu. Tentu saja, teka-teki ini hanya ada dalam pikiran saya, dan tidak perlu dipandang dengan sangat serius, yang kemudian saya coba cari jawabannya baik di dalam maupun di luar cerita itu.

Beberapa teka-teki itu terkait dengan latar tempat dan waktu, dan kedua karakter dalam cerita itu. Pertama, hal-hal yang berkaitan dengan dermaga, navigation season yang telah selesai, musim gugur, sore, malam, pagi, warung-warung dan kios-kios yang tidak lagi buka, sampan kecil, kesunyian, dan dingin.

Kedua, persamaan dan perbedaan yang dimiliki oleh kedua karakter. Persamaannya, kedua karakter hanya membawa tubuh dan pakaian yang melekat di badannya saja, berusia sama, dan sama-sama kelaparan ketika bertemu di dermaga. Perbedaannya, dari sekian banyak perbedaan, yang saya pikir cukup ditonjolkan dalam cerita ini adalah jenis kelamin kedua karakter tersebut, yakni laki-laki dan perempuan; meski kemudian terkesan seksis, tetapi saya pikir pengarang justru ingin menunjukkan pandangan yang menurutnya mewakili kelompok umur dan gender tertentu, yakni pandangan seorang laki-laki dan perempuan berusia delapan belas tahun terhadap kenyataan riil di hadapannya!

Pandangan itu, yang coba ditunjukkan oleh narator, adalah stereotyping yang tertentu, yang terbentuk dari “bacaan” dan “pandangan” yang mengisi alam pikir kedua karakternya yang, saya pikir, juga terkait erat dengan ruang dan waktu, serta kondisi yang juga  tertentu. Namun demikian, stereotyping dan prasangka itu kemudian dihancurkan dalam perjumpaannya dengan kenyataan riil yang dihadapi.

Mungkin tidak semua perjumpaan dapat dengan serta merta mengubah atau menghancurkan stereotyping maupun prasangka yang telah terbentuk sebelumnya, tetapi, dalam cerita itu, perjumpaan yang menghancurkan stereotyping dan prasangka itu seolah terjadi karena “dipaksa” oleh keadaan yang secara eksistensial: krisis, dan kemudian memaksanya untuk terbuka demi menyelamatkan eksistensinya sendiri.

Terakhir, dari kedua teka-teki di dalam labirin cerita itu, saya dituntun masuk ke satu lorong untuk bertemu dengan teka-teki yang ketiga, yakni terkait dengan sisa dan ampas kebudayaan, dan juga peradaban – yang dibuang, dikoyak, disingkirkan, dan ditelantarkan – yang tidak hanya berwujud makanan, pakaian, dan bangunan, melainkan juga berwujud manusia yang bernasib sama dengannya, yang juga dibuang, dikoyak, disingkirkan, dan ditelantarkan.

Tetapi sekali lagi, teka-teki itu mungkin hanya ada di dalam pikiran, yang belumlah tentu demikian dalam kenyataannya. Dan pertanyaan itu, agaknya, untuk sementara, tetap menjadi “sisa” lorong labirin teka-teki Gorky yang harus dijalani.

121120

credit: Foto oleh Valeria Boltneva dari Pexels