By redaksibacaapa

0

THE Fun Domesti[CAT]ed F[ACT]

Kata “insting” terlampau sering dikaitkan dengan kesan “liar”, “kasar”, “primitif”, “tak terdidik”, bahkan “tak beradab”. Orang yang hanya menuruti instingnya saja, akan dengan mudah diturunkan “derajat”nya ke taraf hewan, bahkan ketika insting itu, apabila masih disisakan, justru menyelamatkan hidup itu sendiri.

Membaca cerita pendek karya Mary Eleanor Wilkins Freeman berjudul The Cat seolah memberikan ilustrasi atas hal itu. Bagi sebagian pembaca, cerita itu mungkin menyisakan kemarahan kepada si pemilik kucing karena menelantarkannya.

Tetapi, mungkin, emosi pembaca akan sedikit bergeser apabila jenis kucing dalam cerita itu ternyata berbeda dari yang dibayangkan. Misalnya, jenis kucing yang dipelihara bukanlah jenis kucing rumahan, melainkan jenis kucing yang habitatnya bukanlah di dalam rumah, tetapi di alam bebas, yang sebenarnya tetap dapat hidup tanpa harus dipelihara.

Maka, ada hal yang menurut saya harus dipastikan seusai membaca cerita itu, yakni, jenis kucing dalam cerita itu, yang mampu bertahan dalam cuaca dingin pegunungan bersalju, dan dilengkapi dengan kemampuan berburu yang sangat baik? Apakah kucing gunung Andean, kucing hutan Norwegia, kucing Maine coon, atau kucing rumah biasa?

Lebih lanjut, pembahasan tentang kucing ini, di samping bahwa di dalam cerita tersebut banyak tergambar kecenderungan dasar seekor kucing, menurut saya, menjadi ilustrasi pertama tentang benturan antara insting dan peradaban, yakni bagaimana peradaban sanggup menjadikan makhluk lain menjadi kelaparan setelah didomestikasikan, dan kemudian di “bebas”kan.

Sebaliknya, dalam ilustrasi yang kedua –yakni, dalam kisah orang yang masuk begitu saja ke rumah yang bukan miliknya, dan memanfaatkan yang ada di dalamnya, untuk bertahan hidup, berlindung dari sergapan alam yang mengganas– peradabanlah yang menyelamatkan manusia, meski tanpa izin –tetapi apa artinya izin dalam keadaan yang demikian?

Namun, lagi-lagi, saya sangat mungkin keliru, ketika berasumsi bahwa insting dan peradaban haruslah dibenturkan, karena, jangan-jangan, peradaban itu sendiri adalah insting mendasar manusia untuk bertahan hidup, dan peradaban adalah wujud yang berbeda dari insting yang dimiliki manusia dibandingkan dengan hewan, bahwa peradaban adalah perwujudan insting yang khas manusia, yang telah mencapai ranah kesadaran, dan diolah.

Seandainya demikian, peradaban tidaklah tunggal dan kaku, melainkan beragam dan lentur, bahkan cair, sebagaimana manusia dan dunia di hadapannya. Dan apabila benar bahwa peradaban adalah perwujudan insting manusia untuk bertahan hidup, maka, dalam peradaban, seharusnya tidak ada yang lebih tinggi dari pada kehidupan itu sendiri, yang tentunya diwujudkan pula secara berbeda, tetapi tidak terlepas dari dunia yang dihadapi.

Tetapi andaipun dunia yang dihadapi sama, dalam cerita itu, toh perwujudan insting bertahan hidup itu tetap berbeda antara manusia dengan makhluk lain, dengan kucing itu misalnya. Sampai di sini, saya mungkin justru semakin mengaburkan pengertian antara insting, kebudayaan, dan peradaban; sebagaimana saya juga mengaburkan pesan dari cerita pendek itu; dan sebagaimana kaburnya keinginan saya untuk memastikan jenis kucing dalam cerita itu.

071120

credit: Foto oleh Ekaterina Bolovtsova dari Pexels