By redaksibacaapa

0

Gagal Menjahit Mantel Gogol

Ada dua hal berkesan yang saya dapatkan usai membaca The Cloak karya Gogol, selain kisahnya sendiri tentu saja, yakni terkait dengan penggambaran karakternya, dan terkait dengan penyingkapan struktur masyarakat dalam ceritanya. Tetapi, tampaknya, sukar menggambarkannya tanpa meletakkan kisah itu dalam ruang dan waktu tertentu.

Pertama-tama, ketika membacanya, saya seolah sedang menonton suatu panggung pertunjukan, dengan sutradara dan penulis naskahnya adalah Gogol. Tetapi, kemudian, saya menyadari bahwa saya juga diminta menjadi aktornya sekaligus.

Apa mau dikata?! Tanpa bakat keaktoran ditambah dengan pengetahuan yang minim tentang karakter yang harus saya perankan, saya dipaksa mencari tahu hal-hal lebih detil tentang karakter yang harus saya mainkan. Dan, ternyata, karakter yang harus saya perankan tak hanya satu sebagaimana yang saya bayangkan, melainkan setidaknya lima sekaligus. Maka, beberapa hal teknis untuk memahami cerita itu harus saya selesaikan terlebih dahulu, terutama terkait lingkup ruang dan waktu yang menjadi latar ceritanya.

Sebelum memulai kisahnya, Gogol memberitahu saya tentang struktur masyarakat di dalam ceritanya. Ini termasuk salah satu hal teknis, yang saya sebut sebelumnya, yang harus terlebih dahulu diselesaikan. Struktur itu adalah struktur masyarakat Rusia pada abad 19.

Struktur masyarakat dalam cerita itu ternyata berjenjang, setidaknya terdapat empat belas tingkatan, dengan diferensiasi yang lebih kompleks dalam setiap tingkatannya. Struktur inilah yang, saya pikir, menjadi suatu gelaran peta dalam ceritanya. Dan di dalam gelaran peta struktur ini, Gogol seolah menempatkan karakter-karakter dalam ceritanya ke titik-titik koordinat peta struktur masyarakat itu.

Setelah tahu “letak” karakter-karakter tersebut di peta struktur dalam ceritanya itu, untuk lebih menyelami karakter-karakter tersebut, Gogol seolah meminta saya mencari tahu nilai uang yang berlaku ketika itu. Tentunya, tidak mungkin saya menilai uang yang berlaku ketika itu dengan nilai uang yang berlaku saat ini, bukan?

Pun, dalam nilai uang tersebut, ternyata saya dapati pula berjenjang, yang setiap jenjangnya memiliki sebuah nama, dan, mungkin, setiap nama itu mewakili pula setiap usaha karakternya, sebagai bagian dari struktur yang sedang berjalan di dalam masyarakat tersebut.

Kedua hal itu, struktur masyarakat dan nilai uang, saya pikir, yang kemudian menjadikan karakter-karakternya tampak tanpa daya di hadapan struktur, bahkan ketika struktur tersebut telah menjadi terlampau korup ketika berlaku di masyarakat! Kecuali –ya, kecuali — beberapa karakter yang “berhasil” membuat kusut struktur masyarakat yang telah korup itu, yang dalam cerita itu diwakili oleh “begal”, dan hantu. Dan lebih dari itu, kedua karakter itu mengusutkan juga hukum alam! Apakah ini ironis? Tragis? Satire? Atau, jangan-jangan, malah sarkas? Jawabannya tergantung karakter yang sedang saya perankan.

Sampai di akhir cerita, saya merasa tidak mampu lagi memainkan karakter-karakter di cerita itu. Tetapi ternyata cerita Gogol masih menawarkan kepada saya satu kesempatan untuk memainkan satu karakter yang tersisa: “menjadi orang-orang dalam kumpulan, lantang menertawakan orang-orang yang dikalahkan”.

Saya mundur perlahan, kemudian melayang bersama hantu-hantu di panggung pertunjukan.

021120

credit: Foto oleh Gabby K dari Pexels