By redaksibacaapa

0

Mendengarkan Bibi Louisa Bercerita

Sebagai seorang anak, saya senang mendengarkan orang-orang berbagi cerita. Saya pikir banyak hal dapat saya pelajari dari sana, meskipun dalam kenyataannya tidak demikian. Saya justru seringkali abai pada hal-hal penting, dan lebih tertarik pada hal-hal yang menarik perasaan saya.

Baru setelah cerita itu selesai, saya memikirkan ulang cerita tersebut, itu pun andai saya masih ingat detil cerita itu. Dan, sayangnya, mungkin cukup banyak hal yang tidak saya ingat. Tetapi untungnya, saya diajari membaca dan menulis, sehingga banyak hal dapat ditinjau ulang dengan memanfaatkan keterampilan itu.

Ketika membaca suatu tulisan, saya kadang membayangkan seseorang yang sedang bercerita, dan saya adalah seorang yang mendengarkan di hadapannya. Hal ini pula yang saya bayangkan ketika saya membaca karya Louisa May Alcott berjudul “Cousin Tribulation’s Story“.

Saya membayangkan seorang Bibi yang bercerita pada keponakannya, keponakan itu bernama Merrys, dan sayalah keponakan itu. Bibi Louisa, demikian saya akan memanggilnya, bercerita bahwa sewaktu masih anak-anak Ia pernah melewatkan hari pertama tahun baru dengan sarapan hanya dengan sepotong roti kering dan apel.

Itu bukan karena Bibi Louisa tidak punya makanan, tetapi karena dia memilih untuk membantu orang lain yang lebih membutuhkan makanan. Orang lain yang dibantunya adalah seorang ibu yang baru saja melahirkan. Anak-anak ibu itu seluruhnya berjumlah tujuh.

Bibi Louisa tidak sendiri ketika itu, tetapi bersama dengan ayah dan ibunya, serta, beberapa nama yang saya pikir, saudara-saudaranya. Beberapa nama orang itu adalah Nan, Beth, May, dan Betsy yang seharusnya saya kenal, karena saya adalah keponakan Bibi Louisa.

Kisah yang diceritakan oleh Bibi Louisa itu seolah memulihkan kembali kepercayaan terhadap kemanusiaan dan solidaritas, dalam lingkup antar pribadi, secara individual. Bahwa di sana masih ada orang-orang yang dengan sukarela mengulurkan tangan membantu orang lain, bahkan ketika orang itu adalah orang asing yang sama sekali tidak dikenalnya.

Tak perlu diperdebatkan bahwa yang telah diperbuat Bibi Louisa dan keluarganya adalah perbuatan baik, dan demikian pula bahwa cerita Bibi Louisa merupakan ajakan kepada pendengarnya untuk melakukan perbuatan baik.

Tetapi kemudian saya berpikir, bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika Merrys adalah salah seorang anak dari keluarga ibu yang dibantu oleh keluarga Bibi Louisa, dan Merrys adalah seorang anak yang makan sepotong roti kering dan apel bukan karena kebebasannya memilih, tetapi karena hanya itu yang dia punya?

Bagaimana apabila ketika Bibi Louisa dan keluarganya membantu saya, karena rasa kemanusiaan dan solidaritasnya yang tinggi, Bibi Louisa dan keluarganya justru sedang mengorbankan kesejahteraannya yang sama-sama di ambang batas?

Kenapa keluarga Bibi Louisa dan keluarga Merrys kesejahteraannya dapat sama-sama di ambang batas? Apa yang menjadi sebabnya? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak benar-benar saya butuhkan ketika saya hendak berbuat baik di sini dan saat ini.

Namun demikian, pertanyaan-pertanyaan itu mungkin akan sungguh-sungguh membantu apabila saya hendak membangun suatu kondisi yang memungkinkan kebaikan itu dilakukan tidak hanya pada lingkup individual, tetapi pada lingkup yang lebih luas, yakni sistem yang berlaku di dalam masyarakat itu sendiri, bahkan ketika pertanyaan-pertanyaan itu dapat dengan segera berubah menjadi pertanyaan yang dianggap subversif, termasuk tuduhan bahwa saya tidak memiliki hati sebaik Bibi Louisa.

291020

credit: Photo by Olga Mironova from Pexels