By redaksibacaapa

0

Membaca Mimpi Kate Chopin

Bagaimana menuliskan sebuah mimpi? Saya memaksudkan kata “mimpi” di sini dengan istilah yang biasa dikenal sebagai “bunga/kembang tidur”; bukan sebagai suatu keinginan atau harapan yang kita sadari dan kita usahakan terwujud. Dalam istilah salah satu aliran psikologi, “mimpi” itu termasuk ke dalam pikiran bawah-sadar (sub-conscious mind), yang di dalamnya (dalam mimpi tersebut) termuat keinginan atau harapan yang tidak disadari.  

Apa yang membuat keinginan atau harapan ini menjadi tidak disadari? Salah satu penyebabnya karena represi! Siapa/apa yang merepresi? Bisa pribadi itu sendiri, bisa lingkungan sosial, atau bisa pula sistem yang anonim.

Mimpi selalu milik seorang pribadi. Saya tidak dapat mengetahui apa yang diimpikan oleh orang lain sewaktu orang itu sedang tidur, bahkan jika itu adalah mimpi orang terdekat saya; dan saya hanya dapat mengetahuinya melalui bahasa (baik verbal atau pun non-verbal), itupun jika orang lain cukup terbuka/atau cukup percaya dan tidak merasa terancam membicarakan mimpinya kepada saya.

Namun demikian, bahkan ketika mimpi itu dapat dibicarakan melalui bahasa dalam keadaan sadar, kadang justru kita dapati gambarannya tidak sejelas sewaktu kita tidur. Ketika saya membaca cerita pendek karya Kate Chopin berjudul “The Story of An Hour” saya seolah sedang melihat lukisan tentang mimpi itu.

Kate Chopin benar-benar telah menuliskan sebuah mimpi! Sebagaimana mimpi, cerita itu mengalir saja ketika saya membacanya, sama ketika saya sedang bermimpi sewaktu tidur, tanpa sadar, dan seketika buyar begitu saya terbangun, dan mendapati mimpi itu telah mati bersama kesadaran saya yang hadir kembali.

Kate Chopin, dalam cerita itu, membuat banyak juxtapose (penjajaran), menurut saya, misalnya di awal cerita itu, Louise (karakter perempuan) disebut tidak dengan namanya sendiri, dan nama Louise hanya muncul di ruang pribadi; antara perempuan dan impian-impiannya, yang terepresi tentu saja, dengan melihat potongan-potongan langit melalui jendela ruang pribadinya; juga antara laki-laki (Brently Mallard, suami Louise) sebagai pihak yang mendominasi, sebagai pikiran-sadar, yang merepresi pemikiran dan harapan lain, yakni kesadaran Louise (si perempuan) hingga terkubur dalam, di pikiran bawah-sadar; dan stereotyping masyarakat (Josephine, Richard) yang turut me“lemah”kan Louise.

Sebagai penutup, lagi-lagi, saya pikir ini olok-olok yang menjadikannya ironis, di akhir cerita, semua karakter selain Louise, yang tidak hanya laki-laki, memberikan penilaian yang keliru terhadap impian Louise. Duh! Meskipun demikian, mimpi Louise (apakah mimpi Kate juga?), telah berhasil muncul di permukaan, hadir dalam pikiran-sadar melalui bahasa.

Melalui tulisan itu Kate Chopin berhasil membahasakan mimpi Louise, menjadikannya milik orang-orang yang membaca karyanya, membicarakan karyanya, melawan pemikirannya, atau menyetujuinya. Dengan kata lain, mimpi yang terepresi itu, yang sebelumnya berada di pikiran bawah-sadar, telah terangkat ke ranah pikiran-sadar, berayun-ayun dalam kesadaran. Dan sekali muncul di pikiran-sadar, mimpi itu berpotensi menjadi visi yang, tentu saja, berpotensi juga untuk diwujudkan menjadi hal yang lebih konkrit, entah secara sendiri atau bersama orang-orang lain.

Hingga saat ini setidaknya telah banyak muncul aliran pemikiran yang “secorak” dengan mimpi Kate Chopin itu, dan seringkali disebut feminisme. Dari istilah itu saja muncul banyak ragam perdebatan di sana, mulai dari visi hingga bentuk perwujudannya yang paling konkrit. Kate Chopin, tentu saja, tidak dapat dianggap mewakili pemikiran feminisme secara keseluruhan, tetapi setidaknya menunjukkan bahwa ada pemikiran tertentu yang juga hidup selain pemikiran yang dominan (yang sebelumnya mungkin belum dikenal, atau dapat juga telah dikenal tetapi tidak dianggap karena berada di bawah permukaan pikiran sadar yang lebih mendominasi).

211020

credit: Photo by Анна Галашева from Pexels